Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Mahirotul Lugowiyah | Pelajaran 1 Taqdir & Rahmat Alloh

  هَبَتْ رِيحٌ عَاصِفٌ، وَهَاجَ الْبَحْرُ ومَاجَ، فَاهْتَزَّتِ السَّفِينَةُ وَكَادَتْ تَغْرَقُ، فَخَافَ النَّاسُ وَبَكَوْا، وَدَعَوُا اللهَ أَنْ يُنْقِذَهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ.... Telah bertiup angin yang kencang, dan laut pun bergelora dan bergoncang, maka kapal itu pun terguncang dan hampir tenggelam. Maka orang-orang pun ketakutan, mereka menangis dan berdoa kepada Allah agar Dia menyelamatkan mereka dari keadaan yang mereka alami. 📌 Catatan nahwu-shorof: هَبَتْ : fi‘l māḍī, fa‘ilahnya رِيحٌ . رِيحٌ عَاصِفٌ : na‘t man‘ūt, angin yang kencang. كَادَتْ تَغْرَقُ : fi‘l muqārabah, dengan fi‘l mudhāri‘ تَغْرَقُ sebagai khabarnya. دَعَوُا اللهَ : fi‘l + fā‘il + maf‘ūl bih. وَكَانَ فِي الْقَوْمِ إبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ - رَحِمَهُ اللهُ - وَهُوَ رَجُلٌ صَالِحٌ عُرِفَ بِعِلْمِهِ وَوَرَعِهِ وَتَقْوَاهُ. فَقَالُوا: لَوْ سَأَلْنَاهُ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ ! Dan di antara kaum itu ada Ibrāhīm bin Adham – semoga Allah merahmatinya – seorang laki-laki salih yang dikenal ...

HADITS - BAB 1TENTANG NIAT

  الحديثُ الأوَّلُ عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رضي الله عنه، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ".   Hadis Pertama Dari ‘Umar bin Al-Khattab ra., ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-Nya. **Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia tuju."_ Perawi Hadis Beliau adalah ‘Umar bin Al-Khattab ra., Amirul Mukminin, khalifah kedua kaum Muslimin, bergel...

HADITS - BAB 1 NIAT (ARAB)

  الحديثُ الأوَّلُ عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رضي الله عنه، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ". أ - الرَّاوِي: عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رضي الله عنه، أَمِيرُ المُؤْمِنِينَ، وَثَانِي خُلَفَاءِ المُسْلِمِينَ، الفَارُوقُ ، كَانَ مِنْ أَشْرَافِ قُرَيْشٍ. أَسْلَمَ فِي السَّنَةِ الخَامِسَةِ أَوِ السَّادِسَةِ بَعْدَ البِعْثَةِ، فَكَانَ فِي إِسْلَامِهِ عِزٌّ لِلْمُسْلِمِينَ ، وَشَهِدَ المَشَاهِدَ كُلَّهَا . وَتَوَلَّى الخِلَافَةَ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رضي الله عنهما، بِعَهْدٍ مِنْهُ، فَقَامَ بِهَا خَيْرَ قِيَامٍ. وَفِي آخِرِ ذِي الحِجَّةِ، لِأَرْبَعِ لَيَالٍ بَقِينَ مِنْهُ، طَعَنَهُ غُلَامٌ مَجُوسِيٌّ ، وَأَمِيرُ المُؤْمِنِينَ قَدْ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ الفَجْرِ ، ...

Literasi Nash Islam : Thaharah (Bersuci)

كتاب الطهارة Kitab Thaharah (Bersuci) الطهارة في اللغة: النظافة. Thaharah (bersuci) secara bahasa : berarti kebersihan . وفي الاصطلاح ارتفاع الحدث وزوال النجس، وتطلق على نفس التطهر، وهي بهذين المعنيين حسية. Secara istilah : hilangnya hadats dan lenyapnya najis. Thaharah juga digunakan untuk menyebut perbuatan bersuci itu sendiri. Dalam dua makna ini, ia bersifat hissiyyah (bersifat lahiriah/fisik) . Dan dalam hal ini firman Allah Ta‘ala: "Ambillah zakat dari harta mereka, guna menyucikan mereka dan membersihkan mereka dengannya." (At-Taubah: 103) Makna Thaharah secara Maknawi (Abstrak/Batin) Thaharah juga digunakan untuk makna maknawi , yaitu kesucian akidah, akhlak, dan amal perbuatan . Contohnya firman Allah dalam kebalikannya (yakni lawan dari thaharah maknawi): "Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis." (At-Taubah: 28) Dan firman-Nya: "Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya melakukan perbuatan keji." (Al-Anbiya: 74) Dan fir...

Qowaid Kitabah : Sejarah Penulisan AlQuran

  Penulisan Mushaf Al-Qur’an al-Karim adalah kalam Allah yang diturunkan oleh Jibril 'alaihis salam kepada Rasulullah ﷺ secara bertahap ( munajjaman ), dan umat Islam menerima Al-Qur’an turun-temurun , dari generasi ke generasi , hingga zaman kita sekarang ini — baik secara hafalan maupun tulisan . Karena pentingnya topik penulisan mushaf (رسم المصحف) , kita akan mempelajarinya melalui tiga pembahasan utama , yaitu: Sejarah penulisan mushaf , Perbedaan antara Rasm 'Utsmānī dan Rasm Imlā’ī , Sebab-sebab berpegang pada Rasm 'Utsmānī dalam penulisan mushaf . Pertama: Sejarah Penulisan Mushaf Penulisan Al-Qur’an telah dilakukan pada masa Nabi ﷺ , ketika Rasulullah menerima wahyu dari Al-Qur’an, beliau memerintahkan para penulis wahyu untuk menuliskannya pada tempat yang sesuai dalam susunan Al-Qur’an. Kemudian, Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Abu Bakar Ash-Shiddīq , dan disalin ulang (distandardisasi) pada masa Utsman bin ‘Affān ra, dalam bentuk...

BAB 1 PENULISAN ALQURAN (ARAB)

رَسْمُ ٱلْمُصْحَفِ ٱلْقُرْآنُ ٱلْكَرِيمُ كَلَامُ ٱللّٰهِ نَزَلَ بِهِ جِبْرِيلُ ـ عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ ـ عَلَى رَسُولِ ٱللّٰهِ صَلَّى ٱللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنَجَّمًا ، وَتَلَقَّتْهُ ٱلْأُمَّةُ جِيلًا بَعْدَ جِيلٍ إِلَى عَصْرِنَا هٰذَا تَلَقِّيًا وَ كِتَابَةً . وَلِأَهَمِّيَّةِ مَوْضُوعِ رَسْمِ ٱلْمُصْحَفِ ، سَنَدْرُسُهُ مِنْ خِلَالِ ثَلَاثَةِ عَنَاصِرَ ، هِيَ: تَارِيخُ كِتَابَةِ ٱلْمُصْحَفِ ، وَٱلْفَرْقُ بَيْنَ ٱلرَّسْمِ ٱلْعُثْمَانِيِّ وَٱلرَّسْمِ ٱلْإِمْلَائِيِّ ، وَأَسْبَابُ ٱلِٱلْتِزَامِ بِٱلرَّسْمِ ٱلْعُثْمَانِيِّ فِي كِتَابَةِ ٱلْمُصْحَفِ . أَوَّلًا: تَارِيخُ كِتَابَةِ ٱلْمُصْحَفِ كُتِبَ فِي زَمَنِ ٱلنَّبِيِّ صَلَّى ٱللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَيْثُ كَانَ رَسُولُ ٱللّٰهِ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنَ ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ، أَمَرَ كُتَّابَ ٱلْوَحْيِ بِ كِتَابَتِهِ فِي مَوْضِعِهِ مِنَ ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ. ثُمَّ جُمِعَ فِي عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ ٱلصِّدِّيقِ ، ثُمَّ نُسِخَ فِي عَهْدِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ ٱللّٰهُ عَنْهُ فِي مَصَاح...

Tauhid : Bab 2 Nafiyan Wa Isbatan

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا ٱلطَّاغُوتَ﴾ [النحل: ٣٦] Firman Allah Ta‘ala: “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) 📚 Kosakata Penting (Mufradat): بَعَثْنَا (Kami telah mengutus): Maksudnya adalah Kami telah mengirim . كُلِّ أُمَّةٍ (Setiap umat): Maksudnya setiap kelompok, generasi, atau angkatan dari manusia . رَسُولًا (Seorang rasul): Rasul adalah orang yang diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikannya. ٱعْبُدُوا ٱللَّهَ (Sembahlah Allah): Maksudnya mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya . وَٱجْتَنِبُوا ٱلطَّاغُوتَ (Jauhilah thaghut): Maksudnya tinggalkan dan jauhilah thaghut . Catatan: Kata "thaghut" berasal dari kata "thughyan" (melampaui batas). Segala sesuatu yang disembah selain Allah —dan ia ridha terhadap penyembahan tersebut— maka ia disebut th...

Bab 2 Tauhid (Arab)

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا ٱلطَّاغُوتَ﴾ [النحل: ٣٦]. المُفْرَدَاتُ: بَعَثْنَا : أَرْسَلْنَا. كُلِّ أُمَّةٍ : كُلِّ طَائِفَةٍ وَقَرْنٍ وَجِيلٍ مِنَ النَّاسِ. رَسُولًا : الرَّسُولُ: مَنْ أُوحِيَ إِلَيْهِ بِشَرْعٍ وَأُمِرَ بِتَبْلِيغِهِ. ٱعْبُدُوا ٱللَّهَ : أَفْرِدُوهُ بِٱلْعِبَادَةِ. وَٱجْتَنِبُوا ٱلطَّاغُوتَ : ٱتْرُكُوهُ وَفَارِقُوهُ. الطَّاغُوتُ : مُشْتَقٌّ مِنَ ٱلطُّغْيَانِ ، وَهُوَ مُجَاوَزَةُ ٱلْحَدِّ. فَكُلُّ مَا عُبِدَ مِنْ دُونِ ٱللَّهِ – وَهُوَ رَاضٍ بِٱلْعِبَادَةِ – فَهُوَ: طَاغُوتٌ . ٱلْمَعْنَى ٱلْإِجْمَالِيُّ لِلْآيَةِ: إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ يُخْبِرُ أَنَّهُ أَرْسَلَ فِي كُلِّ طَائِفَةٍ وَقَرْنٍ مِنَ النَّاسِ رَسُولًا يَدْعُوهُمْ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ وَتَرْكِ عِبَادَةِ مَا سِوَاهُ، فَلَمْ يَزَلْ يُرْسِلُ ٱلرُّسُلَ عَلَى ٱلنَّاسِ بِذَلِكَ مُنْذُ حَدَثَ ٱلشِّرْكُ فِي بَنِي آدَمَ فِي عَهْدِ نُوحٍ، إِلَى أَنْ خَتَمَهُمْ بِمُحَمَّدٍ ﷺ. مُنَاسَبَةُ ٱلْآيَةِ لِلْبَ...

Awal Dakwah Nabi di Kota Makkah (610–622 M)

  📍 Tempat: Kota Makkah 📅 Waktu: Tahun 610 – 622 M (13 tahun) 🌟 Bagian 1: Turunnya Wahyu Pertama Nabi Muhammad ﷺ sering menyendiri di Gua Hira untuk merenung dan beribadah. Saat itu, masyarakat Makkah banyak yang menyembah berhala, berbuat zalim, dan hidup tanpa aturan agama. 🔹 Peristiwa Penting: Pada usia 40 tahun , Nabi ﷺ didatangi oleh malaikat Jibril ‘alaihis salam . Jibril berkata, “Iqra!” (Bacalah!) Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Wahyu pertama adalah surat Al-‘Alaq ayat 1–5 : اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. 💡 Inilah awal dari kenabian Nabi Muhammad ﷺ. 🌟 Bagian 2: Dakwah Secara Rahasia (As-Sirr) Pada awalnya, Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama sekitar 3 tahun . 🔸 Siapa saja yang masuk Islam pertama kali? Istrinya, Khadijah binti Khuwailid (radhiyallahu ‘anha) Sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq (radhiyallahu ‘anhu) Anak angkatnya, Zaid bin Hari...