Mahirotul Lugowiyah | Pelajaran 1 Taqdir & Rahmat Alloh

 

هَبَتْ رِيحٌ عَاصِفٌ، وَهَاجَ الْبَحْرُ ومَاجَ، فَاهْتَزَّتِ السَّفِينَةُ وَكَادَتْ تَغْرَقُ، فَخَافَ النَّاسُ وَبَكَوْا، وَدَعَوُا اللهَ أَنْ يُنْقِذَهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ....

Telah bertiup angin yang kencang, dan laut pun bergelora dan bergoncang, maka kapal itu pun terguncang dan hampir tenggelam. Maka orang-orang pun ketakutan, mereka menangis dan berdoa kepada Allah agar Dia menyelamatkan mereka dari keadaan yang mereka alami.

📌 Catatan nahwu-shorof:

  • هَبَتْ: fi‘l māḍī, fa‘ilahnya رِيحٌ.

  • رِيحٌ عَاصِفٌ: na‘t man‘ūt, angin yang kencang.

  • كَادَتْ تَغْرَقُ: fi‘l muqārabah, dengan fi‘l mudhāri‘ تَغْرَقُ sebagai khabarnya.

  • دَعَوُا اللهَ: fi‘l + fā‘il + maf‘ūl bih.



وَكَانَ فِي الْقَوْمِ إبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ - رَحِمَهُ اللهُ - وَهُوَ رَجُلٌ صَالِحٌ عُرِفَ بِعِلْمِهِ وَوَرَعِهِ وَتَقْوَاهُ. فَقَالُوا: لَوْ سَأَلْنَاهُ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ !

Dan di antara kaum itu ada Ibrāhīm bin Adham – semoga Allah merahmatinya – seorang laki-laki salih yang dikenal karena ilmunya, kewara‘annya, dan ketakwaannya. Maka mereka berkata, “Seandainya kita memintanya agar berdoa kepada Allah!”

📌 Catatan nahwu-shorof:

  • كَانَ فِي الْقَوْمِ...: jumlah ismiyyah, إبْرَاهِيمُ adalah ism kāna, dan فِي الْقَوْمِ adalah zharf maqām (tempat).

  • رَجُلٌ صَالِحٌ: khabar mubtada’.

  • عُرِفَ: fi‘l majhūl (bentuk pasif), artinya “dikenal”.

  • بِعِلْمِهِ وَوَرَعِهِ وَتَقْوَاهُ: majrūr biḥarf jar, semua menunjukkan sebab dikenalnya beliau.



فَدَنَا مِنْهُ رَجُلٌ وَقَالَ: يَا أَبَا إِسْحَاقَ، أَمَا تَرَى مَا فِيهِ النَّاسُ ؟

Terjemah:
Maka datanglah seorang laki-laki mendekatinya dan berkata, “Wahai Abā Isḥāq, tidakkah engkau melihat keadaan orang-orang ini?”

📌 Catatan nahwu-shorof:

  • دَنَا: fi‘l māḍī, fā‘ilnya رَجُلٌ.

  • أَمَا تَرَى: istifhām (pertanyaan), تَرَى fi‘l mudhāri‘.



فَرَفَعَ رَأْسَهُ، وَقَالَ: " اللَّهُمَّ قَدْ أَرَيْتَنَا قُدْرَتَكَ، فَأَرِنَا رَحْمَتَكَ !"، فَهَدَأَتِ الرِّيحُ، واسْتَقَرَّتِ السَّفِينَةُ.

Maka ia menengadahkan kepalanya dan berkata, “Ya Allah, sungguh Engkau telah memperlihatkan kepada kami kekuasaan-Mu, maka perlihatkanlah kepada kami rahmat-Mu!” Maka angin pun menjadi tenang, dan kapal pun menjadi stabil.

📌 Catatan nahwu-shorof:

  • أَرَيْتَنَا: fi‘l māḍī bentuk muta‘addī dengan dua maf‘ūl (نَا dan قُدْرَتَكَ).

  • فَأَرِنَا: fi‘l amr dari أَرَى.

  • هَدَأَتِ الرِّيحُ: fi‘l māḍī + fā‘il muannats.



فاللهُ عزَّ وجلَّ هو من يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إذا لَجَأَ إليه وَدَعَاه، قال الله تعالى: (أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ، أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ؟ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ) [النمل: ٦٢]

Maka Allah, Mahaagung dan Mahatinggi, Dialah yang mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berserah diri kepada-Nya dan memohon kepada-Nya. Allah Ta‘ālā berfirman: “Siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan serta menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi? Apakah ada sembahan selain Allah? Sangat sedikit kalian mengingat-Nya.” (An-Naml: 62)

📌 Catatan nahwu-shorof:

  • يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ: fi‘l mudhāri‘ + maf‘ūl bih.

  • أَمَّنْ يُجِيبُ...: istifhām inkārī dalam bentuk retoris untuk menegaskan keesaan Allah.

  • قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ: jumlah mu‘taridlah yang mengandung pengingkaran terhadap kelalaian manusia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahirotul Lugowi : Berpikir Taktis Dan Sederhana

HADITS 2 : TENTANG WAJIBNYA WUDHU DALAM SHOLAT