Mahirotul Lugowi : Berpikir Taktis Dan Sederhana
كانَ لِثَرِيٍّ مَصانِعُ وَمَتاجِرُ، أَصابَتْها النَّارُ فَأَتَتْ عَلَيْها، وَكانَ هٰذا الثَّرِيُّ فِي السِّنِينَ الأَخِيرَةِ مِنْ عُمُرِهِ؛ لَيْسَ لَهُ قُوَّةُ الشَّبابِ، وَكانَتْ ثَرْوَتُهُ الضَّائِعَةُ مَجْهُودَ العُمُرِ. جاءَهُ مَنْ يَسْأَلُهُ عَنْ هٰذِهِ الكارِثَةِ وَأَسْبابِها وَمِقْدارِها، فَأَجابَهُ: لَسْتُ أُفَكِّرُ فِي شَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ، وَإِنَّما يَمْلِكُ عَلَيَّ كُلُّ فِكْرِي الآنَ: ماذا أَنا صانِعٌ غَدًا؟
Ada seorang hartawan yang memiliki pabrik-pabrik dan toko-toko. Musibah kebakaran menimpa sehingga membinasakan seluruhnya. Hartawan itu berada pada tahun-tahun akhir usianya; ia sudah tidak lagi memiliki kekuatan muda. Kekayaannya yang hilang itu adalah hasil jerih payah seumur hidup. Datang seseorang menanyainya tentang musibah itu, penyebabnya, dan seberapa besar kerugiannya. Ia pun menjawab: “Aku tidak memikirkan sedikit pun tentang semua itu. Yang sepenuhnya menguasai pikiranku sekarang hanyalah: apa yang akan aku lakukan besok?”
هٰذا الاتِّجاهُ العَمَلِيُّ فِي التَّفْكِيرِ؛ هُوَ دَلِيلُ الحَياةِ، وَعُنْوانُ القُوَّةِ، وَمَبْعَثُ النَّشاطِ، فَما دُمْتَ حَيًّا فَفَكِّرْ فِي وَسائِلِ الحَياةِ، وَالسَّعادَةِ فِيها، وَتِلْكَ كُلُّها أَمامَكَ لا خَلْفَكَ، وَفِي الغَدِ لا فِي الأَمْسِ. وَلِأَمْرٍ ما خَلَقَ اللهُ الوَجْهَ فِي الأَمامِ وَلَمْ يَخْلُقْهُ فِي الخَلْفِ، وَجَعَلَ العَيْنَ تَنْظُرُ إِلَى الأَمامِ لا إِلَى الخَلْفِ، وَجَعَلَ لَنا عَقْلًا يَنْظُرُ إِلَى الأَمامِ وَإِلَى الخَلْفِ مَعًا، وَأَنْ يَكُونَ نَظَرُهُ إِلَى الخَلْفِ وَسِيلَةً لِحُسْنِ النَّظَرِ إِلَى الأَمامِ، فَعَكَسَ قَوْمٌ الفِطْرَةَ الإِنْسانِيَّةَ، وَنَظَرُوا بِعُقُولِهِمْ إِلَى الخَلْفِ وَحْدَهُ، وَقَلَبُوا الوَضْعَ؛ فَجَعَلُوا النَّظَرَ إِلَى الخَلْفِ غايَةً لا وَسِيلَةً.
Arah berpikir yang praktis seperti ini adalah tanda kehidupan, lambang kekuatan, dan sumber semangat. Selama engkau masih hidup, berpikirlah tentang sarana untuk hidup dan kebahagiaan di dalamnya. Semua itu ada di hadapanmu, bukan di belakangmu; ada pada hari esok, bukan pada hari kemarin. Karena suatu hikmah, Allah menciptakan wajah menghadap ke depan dan tidak menjadikannya di belakang, menjadikan mata memandang ke depan, bukan ke belakang. Dia memberi kita akal yang dapat melihat ke depan sekaligus ke belakang, dengan tujuan agar pandangan ke belakang menjadi sarana untuk memperbaiki pandangan ke depan. Namun, ada sebagian orang yang justru membalik fitrah kemanusiaan: mereka hanya memandang ke belakang, lalu membalik keadaan sehingga menjadikan pandangan ke belakang sebagai tujuan, bukan sebagai sarana.
خَيْرٌ لَكَ إِنْ كُنْتَ فِي ظُلْمَةٍ أَنْ تَأْمُلَ طُلُوعَ الشَّمْسِ غَدًا، مِنْ أَنْ تَذْكُرَ طُلُوعَها أَمْسِ؛ فَلِكُلٍّ مِنَ الظَّاهِرَتَيْنِ أَثَرٌ نَفْسِيٌّ مُعاكِسٌ لِلآخَرِ، فَفِي تَرَقُّبِكَ طُلُوعَ الشَّمْسِ غَدًا الأَمَلُ وَالطُّمُوحُ إِلَى ما هُوَ آتٍ؛ وَفِي هٰذا مَعْنَى الحَياةِ، وَفِي تَذَكُّرِكَ طُلُوعَها أَمْسِ حَسْرَةٌ عَلَى ما فاتَ، وَأَلَمٌ مِنْ خَيْرٍ كُنْتَ فِيهِ إِلَى شَرٍّ صِرْتَ فِيهِ؛ وَفِي ذٰلِكَ مَعْنَى الفَناءِ.
Lebih baik bagimu, jika engkau berada dalam kegelapan, untuk berharap matahari akan terbit esok hari daripada sekadar mengingat bahwa ia telah terbit kemarin. Sebab, masing-masing dari kedua hal itu memiliki pengaruh jiwa yang berlawanan. Dalam penantianmu akan terbitnya matahari esok, ada harapan dan cita-cita terhadap apa yang akan datang — dan di situlah makna kehidupan. Sedangkan dalam ingatanmu bahwa matahari telah terbit kemarin, ada penyesalan atas apa yang telah berlalu dan rasa sakit karena berpindah dari kebaikan yang pernah engkau rasakan menuju keburukan yang kini engkau alami — dan di situlah makna kehancuran.
وَفَرْقٌ كَبِيرٌ بَيْنَ مَنْ يُلْطَمُ اللَّطْمَةَ فَلا تَكُونُ لَهُ وَسِيلَةٌ إِلَّا البُكاءُ، وَتَذَكُّرُ اللَّطْمَةِ ثُمَّ البُكاءُ، ثُمَّ تَذَكُّرُ اللَّطْمَةِ ثُمَّ البُكاءُ، وَبَيْنَ مَنْ يُلْطَمُ اللَّطْمَةَ فَيَسْتَجْمِعُ قُواهُ لِلْمُكافَحَةِ، وَالحَياةُ كُلُّها لَطَماتٌ، وَأَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ حارَتْ قُواهُ أَمامَ أَوَّلِ لَطْمَةٍ فَهَرَبَ! وَلَوْ أَنْصَفَ النَّاسُ لَقَوَّمُوا النَّاسَ بِمِقْدارِ كِفاحِهِمْ، لا بِمِقْدارِ إِخْفاقِهِمْ وَنَجاحِهِمْ.
Ada perbedaan besar antara orang yang menerima sebuah tamparan lalu tidak punya cara selain menangis, mengingat tamparan itu lalu menangis lagi, mengingatnya lagi lalu menangis lagi, dengan orang yang menerima tamparan lalu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melawan. Kehidupan seluruhnya adalah tamparan-tamparan, dan manusia yang paling lemah adalah mereka yang kekuatannya habis di hadapan tamparan pertama lalu ia lari! Seandainya manusia berlaku adil, mereka akan menilai orang berdasarkan kadar perjuangannya, bukan berdasarkan kadar kegagalan atau keberhasilannya.
فَرْقٌ بَيْنَ مَنْ يَحْلُمُونَ وَيَسْعَوْنَ بِتَغْيِيرِ واقِعِهِمْ لِما هُوَ أَجْمَلُ وَأَنْمى، وَمَنْ يَعيشُونَ فِي أَحْلامٍ، وَلا يُرِيدُونَ أَنْ يَعيشُوا فِي حَياةٍ واقِعِيَّةٍ، وَحَوْلَ هٰذِهِ المَعيشَةِ الحالِمَةِ يَنْسُجُونَ دائِمًا ما يُوافِقُها وَيُمازِجُها وَيُسايِرُها. يَكْتَفُونَ بِالأَمَلِ أَنْ يَنْعَمُوا بِالآخِرَةِ، وَماذا عَلَيْهِمْ لَوْ عَمِلُوا لِيَنْعَمُوا بِالدُّنْيا وَالآخِرَةِ؟!
Ada perbedaan antara orang-orang yang bermimpi lalu berusaha mengubah kenyataan mereka menuju yang lebih indah dan lebih berkembang, dengan orang-orang yang hidup dalam mimpi namun tidak mau hidup dalam kehidupan yang nyata. Sekitar kehidupan yang penuh lamunan itu, mereka selalu merajut segala hal yang sesuai dengannya, yang menyatu dengannya, dan yang sejalan dengannya. Mereka merasa cukup dengan harapan akan memperoleh kenikmatan di akhirat, padahal apa ruginya jika mereka juga berusaha agar bisa menikmati kehidupan di dunia dan di akhirat sekaligus?!
Komentar
Posting Komentar