Literasi Nash Islam : Thaharah (Bersuci)

كتاب الطهارة

Kitab Thaharah (Bersuci)


الطهارة في اللغة: النظافة.

Thaharah (bersuci) secara bahasa: berarti kebersihan.

وفي الاصطلاح ارتفاع الحدث وزوال النجس، وتطلق على نفس التطهر، وهي بهذين

المعنيين حسية.

Secara istilah: hilangnya hadats dan lenyapnya najis. Thaharah juga digunakan untuk menyebut perbuatan bersuci itu sendiri. Dalam dua makna ini, ia bersifat hissiyyah (bersifat lahiriah/fisik).


Dan dalam hal ini firman Allah Ta‘ala:
"Ambillah zakat dari harta mereka, guna menyucikan mereka dan membersihkan mereka dengannya."
(At-Taubah: 103)


Makna Thaharah secara Maknawi (Abstrak/Batin)

Thaharah juga digunakan untuk makna maknawi, yaitu kesucian akidah, akhlak, dan amal perbuatan.

Contohnya firman Allah dalam kebalikannya (yakni lawan dari thaharah maknawi):
"Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis."
(At-Taubah: 28)

Dan firman-Nya:
"Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya melakukan perbuatan keji."
(Al-Anbiya: 74)

Dan firman-Nya juga:
"Sesungguhnya khamar (minuman keras), judi, berhala, dan undian panah adalah perbuatan keji dari perbuatan setan."
(Al-Ma'idah: 90)


Kenapa Pembahasan Fikih Dimulai dari Thaharah

Para penulis kitab fikih dan hadits-hadits hukum memulai kitab-kitab mereka dengan bab thaharah, karena thaharah adalah kunci shalat, sedangkan shalat adalah rukun Islam yang paling ditekankan setelah dua kalimat syahadat (yaitu syahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah).
Maka tidak sah shalat kecuali dengan bersuci.


Makna dan Hikmah Tersirat

Ada pula hubungan makna (yang mungkin tidak secara langsung dimaksudkan oleh para ulama), yaitu bahwa thaharah mengingatkan penuntut ilmu, ketika mulai menuntut ilmu, untuk mensucikan hatinya dan mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah Ta‘ala dalam mencari ilmu.

Tujuannya adalah untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, serta menjaga syariat Islam, menyebarkannya di tengah manusia, melindungi dan memperjuangkannya, serta menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari seluruh manusia, agar mereka dapat beribadah kepada Allah di atas dasar ilmu dan cahaya (bashirah).



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahirotul Lugowi : Berpikir Taktis Dan Sederhana

Mahirotul Lugowiyah | Pelajaran 1 Taqdir & Rahmat Alloh

HADITS 2 : TENTANG WAJIBNYA WUDHU DALAM SHOLAT