Nash Islam : Hadits ke 2 Salah Satu Dosa Besar


مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ."
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟
قَالَ:
"يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ."

Termasuk dosa besar yang paling besar
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya termasuk dosa besar yang paling besar adalah apabila seseorang melaknat kedua orang tuanya."
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang melaknat kedua orang tuanya?”
Beliau menjawab:
"Seseorang mencaci ayah orang lain, lalu orang itu mencaci ayahnya. Ia mencaci ibu orang lain, lalu orang itu mencaci ibunya."

📚 (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)


اللغة (Penjelasan Bahasa):

الكلمة معناها
الكَبَائِرُ  Dosa-dosa besar, yaitu dosa-dosa berat yang dikenai hukuman di dunia atau ancaman di akhirat, atau diakhiri dengan laknat, kemurkaan, atau neraka.
يَسُبُّ  Mencaci, menghina, atau memaki dengan kata-kata kotor.

التعليق (Komentar):


مِنَ النَّاسِ مَنْ فَسَدَتْ تَرْبِيَتُهُ، وَسَاءَ خُلُقُهُ، فَلَا يَكَادُ يَخْتَلِفُ مَعَ أَحَدٍ حَتَّى يُطْلِقَ لِسَانَهُ بِفَاحِشِ الشَّتَائِمِ.
وَكَثِيرًا مَا يَتَنَاوَلُ أَبَا خَصْمِهِ بِالشَّتْمِ، فَيَضْطَرُّ هَذَا – فِي مَعْرِضِ الدِّفَاعِ عَنْ نَفْسِهِ – إِلَى أَنْ يَشْتِمَهُ، وَيَشْتِمَ أَبَاهُ، وَيَشْتِمَ أُمَّهُ أَيْضًا.


Sebagian orang rusak pendidikannya dan buruk akhlaknya. Ia hampir tidak berselisih dengan siapa pun kecuali lisannya langsung meluncur dengan makian dan kata-kata kotor.
Sering kali ia mencaci ayah lawannya, sehingga lawan bicara itu – dalam upaya membela diri – akan membalas dengan mencacinya, lalu mencaci ayahnya, bahkan ibunya juga.



وَلَمَّا كَانَ الإِسْلَامُ حَرِيصًا عَلَى أَنْ يَحْفَظَ لِلْوَالِدَيْنِ كَرَامَتَهُمَا، وَيُحِيطَهُمَا بِسِيَاجٍ مِنَ الإِعْزَازِ وَالتَّكْرِيمِ، اعْتِرَافًا بِمَا لَهُمَا مِنْ فَضْلٍ عَلَيْنَا، وَتَقْدِيرًا لِمَا بَذَلَاهُ مِنْ تَعَبٍ وَمَشَقَّةٍ فِي سَبِيلِ تَرْبِيَتِنَا، فَقَدْ نَهَى عَنْ كُلِّ مَا يُحِطُّ مِنْ قَدْرِهِمَا، أَوْ يُعَرِّضُهُمَا لِلْمَهَانَةِ وَالِاحْتِقَارِ.


Karena Islam sangat menjaga kehormatan kedua orang tua, serta melindungi mereka dengan pagar kemuliaan dan penghormatan —sebagai pengakuan atas jasa-jasa mereka kepada kita dan penghargaan atas lelah dan susah payah mereka dalam mendidik kita— maka Islam melarang segala sesuatu yang merendahkan kedudukan mereka, atau menjatuhkan mereka ke dalam kehinaan dan penghinaan.



لِذَا يُشِيرُ الحَدِيثُ الشَّرِيفُ إِلَى أَنَّ مَنْ يَتَسَبَّبُ فِي شَتْمِهِمَا، يَكُونُ قَدِ ارْتَكَبَ كَبِيرَةً مِنَ الْكَبَائِرِ، يَسْتَحِقُّ عَلَيْهَا أَشَدَّ الْعِقَابِ.

Oleh karena itu, hadits mulia ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menyebabkan orang tuanya dicaci, maka ia telah melakukan salah satu dosa besar yang paling besar, dan layak mendapatkan hukuman yang paling berat.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahirotul Lugowi : Berpikir Taktis Dan Sederhana

Mahirotul Lugowiyah | Pelajaran 1 Taqdir & Rahmat Alloh

HADITS 2 : TENTANG WAJIBNYA WUDHU DALAM SHOLAT