Tauhid : Wasiat Nabi Muhammad Tentang Jalannya yang Lurus (Arab)
مَسْعُودٍ رضي الله عنه:
(مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى وَصِيَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي عَلَيْهَا خَاتَمُهُ فَلْيَقْرَأْ قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ... إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ... ﴾ الآيَاتُ).
Perkataan Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu:
“Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad ﷺ yang padanya terdapat cap (stempel) beliau, maka hendaklah ia membaca firman Allah Ta‘ala: ‘Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan Rabb kalian atas kalian…’ sampai firman-Nya: ‘Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia…’ (QS. al-An‘ām ayat 151–153).”
Ibnu Mas‘ud:
Beliau adalah ‘Abdullāh bin Mas‘ūd bin Ghāfil bin Ḥabīb al-Hudhalī. Seorang sahabat mulia dari kalangan yang pertama masuk Islam, termasuk ulama besar dari kalangan sahabat. Beliau senantiasa bersama Nabi ﷺ, dan wafat pada tahun 32 H.
Kosakata:
-
Waṣiyyah (وَصِيَّة): Perintah yang ditekankan dan ditetapkan.
-
Khātamuhu (خَاتَمُهُ): Cincin, yaitu lingkaran dengan batu di atasnya. Juga bermakna “stempel”. Khatamtu ‘alā al-kitāb artinya: “Aku menutup/memateraikannya.”
Makna keseluruhan dari atsar ini:
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seandainya Rasulullah ﷺ berwasiat, maka beliau tidak akan berwasiat kecuali dengan apa yang telah diwasiatkan oleh Allah Ta‘ala. Karena Allah sendiri telah mewasiatkan dalam ayat-ayat tersebut, sebab Allah menutup setiap ayatnya dengan firman-Nya: “Dzalikum waṣṣākum bihi” (Itulah yang Dia wasiatkan kepada kalian).
Ucapan ini beliau sampaikan karena sebelumnya Ibnu ‘Abbās radhiyallahu ‘anhumā berkata: “Sesungguhnya kerugian yang paling besar adalah apa yang menghalangi kita dari dituliskannya wasiat Rasulullah ﷺ untuk kita.” Maka Ibnu Mas‘ud pun mengingatkan bahwa di sisi mereka sudah ada al-Qur’an yang mencukupi mereka. Karena seandainya Nabi ﷺ berwasiat, maka beliau tidak akan berwasiat kecuali dengan apa yang terdapat dalam Kitab Allah Ta‘ala.
📖 Rujukan: QS. al-An‘ām: 151–153.
مُنَاسَبَةُ هَذَا الْأَثَرِ لِلْبَابِ
“Kesesuaian atsar ini dengan bab”
→ Penjelasan bahwa apa yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut, sebagaimana ia adalah wasiat Allah, maka itu juga merupakan wasiat Rasul-Nya. Karena sesungguhnya Rasul berwasiat dengan apa yang Allah wasiatkan.
مَا يُسْتَفَادُ مِنْ قَوْلِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
“Hal-hal yang dapat diambil dari perkataan Ibnu Mas‘ūd raḍiyallāhu ‘anhu”
-
Pentingnya wasiat-wasiat sepuluh ini.
-
Bahwa Rasul berwasiat dengan apa yang Allah wasiatkan; maka setiap wasiat dari Allah adalah wasiat Rasul-Nya ﷺ.
-
Kedalaman ilmu para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum dan ketelitian pemahaman mereka terhadap Kitab Allah Ta‘ālā.
Komentar
Posting Komentar